Kamis, 25 Agustus 2016

TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA SUSI SIMILIKITI

Tukul Arwana, 52, tampaknya begitu terpukul ditinggal pergi sang istri, Susiana, untuk selamanya.
Sepanjang malam sebelum jenazah dimakamkan, Tukul lebih sering berada di dalam kamar. Dia tidak mampu menemui pelayat yang berdatangan ke rumah duka di Jalan H Jian Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Kesedihan semakin terlihat saat prosesi pemakaman di TPU Jeruk Perut yang dimulai pukul 09.20 kemarin (24/8). Tukul bersama tiga anaknya, Ega Prayudi, Novita Eka Afriana, dan Wahyu Jovan Utama, terus menangis. 
Begitu pemakaman selesai, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memimpin pembacaan doa. ”Terima kasih, terima kasih untuk semua yang sudah membantu,” kata Tukul. 
Tukul mengungkapkan, istrinya tidak pernah punya riwayat sakit berat kecuali asma. Dia lantas bercerita singkat detail kronologi sebelum Susi dibawa ke RSIA Brawijaya pada Selasa malam lalu (23/8). 
”Istri saya habis salat Magrib bikin susu buat anak. Setelah magrib itu baru enggak ada. Saya enggak ada firasat sama sekali. Dia juga tidak meninggalkan pesan apa-apa,’’ kata komedian yang terkenal dengan acara Bukan Empat Mata itu.
Ega Prayudi yang merupakan anak angkat Tukul dan Susi menceritakan, sejak pagi ibunya tidak enak badan. Ibunya sempat dibawa ke klinik, tapi tidak ditemukan gejala serius. 
’’Ibu masih sempat ke pengajian di Pondok Indah. Setelah magrib itu, rencananya mau buat surat keterangan sehat untuk adik sekolah,’’ papar Ega yang kini berprofesi sebagai polisi di Surabaya tersebut.
Ketika Susi salat Magrib, adik Tukul yang bernama Bendel Sutadi, 48, menunggu di ruang tamu. Dia yang akan mengantar Susi ke dokter untuk meminta surat sehat.
Namun, saat si bungsu, Jovan, 8, masuk ke kamar, dia histeris ketika melihat ibunya telentang dalam kondisi sesak napas. Saat itu Susi masih mengenakan mukena.
Mendengar Jovan berteriak, asisten rumah tangga bernama Ari langsung masuk ke kamar Susi untuk mengecek. Saat itu badan Susi sudah dingin, hanya leher yang hangat. Ari langsung memanggil Tukul untuk memberi tahu bahwa Susi pingsan. 
’’Mas Tukul menggoyang badannya, tapi enggak ada reaksi. Tangannya sudah dingin. Karena penasaran dan tidak yakin, Mas Tukul minta dibawa ke Brawijaya,’’ terang Ari.
Kepergian Susi di usia 48 tahun itu memang sangat mengejutkan keluarga. Hari-hari sebelum meninggal dilalui dengan normal. Malah pada Minggu lalu (21/8), Susi masih merayakan ulang tahun putrinya, Novita Eka Afriana, yang ke-17. 
Hanya, Susi memang sudah lama megidap penyakit asma. Setiap hari dia menggunakan alat inhaler asma. ’’Dulu pernah sesak napas sampai pingsan dua kali, dikeroki sembuh,’’ kata Bendel. 
Meski sedih, keluarga berusaha untuk mengikhlaskan. ”Sekarang saatnya kita yang masih hidup berbuat sebaik-baiknya,’’ ujar Tukul pelan.